Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Ari's Site

Blog EntryAug 3, '07 3:15 AM
for everyone

http://pks-jogja.org/detail.php?ID=257&cat=Artikel  dan di
http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=297432

===

PAK CAHYADI DAN BUKU SATU ISTRI

pks-jogja.org | Keluarga | MIS | 2007-05-18 | Sudah dibaca :  107  kali


PAK CAHYADI DAN BUKU “SATU ISTRI”
Oleh: M.I. Sunnah


Siang itu telpon Kantor DPW PKS DIY berdering kencang. Seorang “ikhwan” mengaku dari sebuah Yayasan Ibu-ibu di Jakarta mencari Pak Cahyadi Takariawan. “Betul ini kantor Pak Cahyadi?” tanyanya dari sebrang sana. Saya jawab, “Ya, Pak Cahyadi pernah berkantor di sini karena dulu Beliau Wakil Ketua DPW PK DIY. Mau megundang Pak Cahyadi, ya?” tebakku kemudian. “Ya, Pak. Kami mau mengudang Pak Cahyadi untuk bedah bukunya yang terbaru!” jawab ikhwan itu dengan mantab. “O…buku Bahagiakan Diri dengan Satu Istri ya?” tanyaku menyelidik. “Ya, di sini buku itu telah menjadi pusat perbincangan Pak. Teman-teman di sini ingin klarifikasi dengan penulisnya.” Ujar ikhwan itu semakin bersemangat. “O….ya. Gimana tanggapan teman-teman di sini?” pancingku. Tak terduga terocosan kata-kata berikutnya sungguh mengagetkan. Betapa tidak, ‘ikhwan” itu bilang, “Di sini buku itu dinilai telah merusak aqidah ummat karena isinya menakuti-nakuti orang melakukan pligami yang jelas-jelas dibenarkan oleh syariat Islam!”.


“Masya Allah, masa iya to?” tanyaku membalut kegusaranku. Lalu sekenanya kukatakan, “O ya… mungkin itu karena hanya membaca jilid pertamanya saja. Saya dengar dari istri Pak Cahyadi, kalau edisi ini sukses, mungkin Pak Cahyadi akan menulis jilid keduanya dengan judul “Bahagiakan Diri dengan Dua istri. Jilid ketiganya, Bahagiakan Diri dengan Tiga Istri” dan seterusnya….”. Lalu kami sama-sama tertawa.


Suatu hari saya telpon Pak Cahyadi untuk menanyakan masalah ini. Menurut beliau, memang pada pekan-pekan bulan terakhir ini banyak sekali yang menelpon atau tepatnya semacam menteror dirinya secara tidak langsung. Biasanya mereka menelpon ke Kantor Penerbit Era Intermedia, atau ke Kantor DPP. “Tampaknya, banyak yang salah paham terhadap buku saya itu. Bahkan, ada yang menganggap saya ini antipoligami”, jelasnya serius. “Padahal jika dicermati, buku itu hanya memposisikan pemahaman atas disyariatkannya poligami dan memberi rambu-rambu pertimbangan bagi yang hendak menempuhnya. Saya juga heran mengapa koq bisa begini jadinya….” tambahnya kemudian.

Akibat buku terbarunya ini pula, teman-teman komunitas muslim di Australia juga bermaksud mengundang penulis produktif buku-buku wanita dan keluarga ini. Insya Allah kalau lancer semuanya, mungkin bulan Juni nanti Pak Cahyadi akan berangkat ke Negeri Kanguru. Sebenarnya seperti apakah buku yang menghebohkan kalangan muslimah ini? Berikut ini resensi buku tersebut (MIS). 

 

SINOPSIS BUKU

Bahagiakan Diri dengan Satu Istri

312 hlm. 14 x 20,5 cm, Rp. 34000,-

(Sumber: http://www.eraintermedia.com)

 

Sejarah kehidupan Nabi mencatat bahwa beliau melakukan monogami selama hampir 25 tahun dengan Khadijah, sedangkan kehidupan berpoligami dijalani selama 10 tahun, sebagaimana diwartakan Aisyah r.a., "Nabi Saw. tidak memadu Khadijah hingga dia meninggal dunia." (HR. Muslim)

 

Jika sebagian tokoh gencar memperkenalkan poligami sebagai Sunah Nabi yang terkesan `harus diikuti' dengan menegasikan nilai-nilai positif monogami, tentu saja ini aneh. Apalagi pembolehan syariat untuk menikahi hingga empat perempuan pun ditetapkan di zaman ketika kaum lelaki dianggap wajar memiliki puluhan bahkan ratusan istri.

 

Namun di sisi lain, kita juga merasa pilu bila menyaksikan para janda akibat konflik di Ambon dan Ternate yang menghajatkan hadirnya pengganti mendiang suami mereka, sementara mengharapkan jejaka yang secara sukarela menikahinya sangatlah sulit. Di sini kita memahami betapa Islam sangatlah bijak memperbolehkan poligami.

 

Sungguh tidak layak jika masalah poligami yang ramai dibicarakan khalayak harus membuat hati lelaki berbunga-bunga, hati perempuan menjadi kecut, lalu para mubalig disibukkan dengan menjelaskan nilai-nilai positifnya, hanya dengan alasan `membela syariat'. Jujur saja,

di alam realitas, amalan syar'i yang satu ini memang tidak mudah diwujudkan karena banyaknya faktor yang memengaruhi.Buku ini hadir bukan untuk melibatkan diri dalam `komunikasi rumit' antara pihak lelaki dengan perempuan dalam isu poligami. Namun, ia ingin berbicara lebih bersahaja; memahami ketetapan syariat sekaligus memahami konteks di alam realitas. Sesuai judulnya, karya ini mengungkap lebih jujur berbagai hal seputar indahnya berumah tangga dengan satu istri.

 

===

 

http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=297432

 

Kamis, 02 Agt 2007,

Bersyukur setelah Baca Suami Batal Kawin Lagi

 

Ketika Buku Antipoligami Membikin Kader PKS "Terbelah"

Seorang anggota Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang disegani menulis buku Bahagiakan Diri dengan Satu Istri. Karya itu langsung disambut gembira jutaan kader wanita PKS. Namun, sebaliknya, para kader pria yang sudah atau akan berpoligami mereaksi dengan keras.

RIDLWAN HABIB, Jakarta

RUANGAN Kantor Hilal al Ahmar di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, siang itu terasa gerah. Bukan karena cuaca Jakarta terik. Juga bukan disebabkan pendingin ruangan tidak berfungsi. Tapi, karena buku yang ditulis Cahyadi Takariawan itu memicu kontroversi yang panas.

"Buku ini memang harus segera ditarik. Hati saya membara membacanya," ujar Wakil Bendahara Umum DPP PKS Didin Amarudin kepada Jawa Pos. Saat itu lelaki beristri tiga itu datang pada acara dengan ditemani empat orang pengurus DPP yang lain.

Menurut Didin, sejak buku itu terbit, istri-istrinya menjadi gelisah. "Bahkan, istri kedua saya menghubungi temannya yang juga dipoligami dan bikin bedah buku khusus untuk ini," katanya.

Pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat, itu mengakui buku Cahyadi Takariawan itu mengubah paradigma umum di kalangan wanita PKS yang selama ini mendukung poligami. "Kalau yang menulis orang luar atau orang yang sekuler, saya tidak heran. Tapi, ini yang menulis adalah ustad yang kredibilitasnya sangat diakui di Majelis Syura PKS," kata Didin.

Majelis syura adalah elemen tertinggi di partai yang berdiri sejak 1998 (awalnya bernama Partai Keadilan). Anggota majelis hanya 99 orang yang dipilih dari jutaan kader PKS di seluruh Indonesia.

Didin mengatakan, para qiyadah (pimpinan) partai gelisah karena buku itu dijadikan simbol perlawanan terhadap suami yang akan menikah lagi. "Rumah saya satu kompleks dengan Pak Tifatul (Tifatul Sembiring, presiden PKS, Red). Beliau juga khawatir, tapi selama ini memang memilih diam," ujar bapak tujuh putra itu. Tifatul Sembiring juga beristri dua. Sekretaris Jenderal PKS Anis Matta juga berpoligami. Bahkan, istri kedua Anis berkebangsaan asing.

"Buku Pak Cah (Cahyadi Takariawan) itu hanya menonjolkan sisi-sisi negatif dari poligami, seakan-akan ribet banget, padahal tidak benar," katanya.

Didin lalu melanjutkan kisah "sukses" poligami dirinya. Istri pertama Didin dinikahi pada 1990. Lalu, istri kedua pada 2001. Terakhir, Didin menikahi akhwat (kader PKS) menjadi istri ketiga pada 2002. "Memang, biasanya dari istri pertama ke yang kedua itu lama pendekatannya, Mas. Baru yang ketiga lancar," tuturnya.

Manajemen keluarganya, kata Didin, malah terbantu ketika dirinya berpoligami. "Kalau kita berhitung secara matematis, anak tujuh dirawat dan dididik tiga istri kan lebih baik," ujarnya.

Dia khawatir buku Cahyadi akan menimbulkan pro-kontra di kalangan rumah tangga muslim masing-masing kader. "Ada jutaan akhwat di Indonesia. Beberapa di antara mereka janda. Lantas, apakah mereka kita biarkan," katanya dengan nada bertanya.

Taufik Bahtiar, direktur Hilal al Ahmar, menambahkan bahwa ada beberapa logika yang tidak tepat dan dicantumkan dalam buku ber-cover merah jambu itu. "Misalnya, tentang cinta lelaki yang tidak bisa dibagi, itu salah. Contohnya, saya. Kalau dengan istri pertama 100 persen, dengan istri kedua juga 100 persen," ujarnya, lalu tersenyum.

Taufik juga berpoligami. Istri pertama meminta cerai ketika Taufik hendak menikah kali ketiga. Sekarang janda Taufik itu diperistri sahabatnya yang juga anggota Majelis Syura PKS sebagai istri kedua.

Buku terbitan Era Intermedia, Solo, tersebut telah dicetak hingga 10.000 eksemplar. Buku setebal 278 halaman itu mengupas sisi-sisi lain dari keluarga yang berpoligami.

Si penulis Cahyadi Takariawan kepada Jawa Pos mengatakan bahwa dirinya kaget melihat reaksi "jamaahnya" terhadap buku itu. "Padahal, di halaman awal buku itu saya sudah jelaskan tidak berbicara tentang hukum poligami, tapi bicara tentang mereka yang gagal berpoligami karena persiapannya kurang," katanya.

Alumnus Fakultas Farmasi UGM itu mengibaratkan poligami dengan salat. "Siapa yang membantah kalau salat itu wajib. Tapi, pada praktiknya, banyak yang salat, tapi tetap korupsi. Banyak yang salat, tapi menipu, mencuri, dan kejahatan yang lain. Apakah yang salah salatnya?" katanya.

Demikian juga, poligami. Melalui bukunya, suami Ida Nur Laila itu ingin "meluruskan" para pelaku poligami. "Bukan untuk mengampanyekan antipoligami," kata suami yang bertahan dengan satu istri itu.

Cahyadi mengaku mendapat banyak sekali keluhan dari ummahat (ibu-ibu istri ikhwan alias kader PKS) yang mengalami masalah gara-gara suaminya menikah lagi. "Kebetulan, saya juga konsultan keluarga. Selain datang langsung, mereka juga menelepon dan mengirim SMS," kata ketua Wilayah Dakwah (Wilda) III DPP PKS itu. Sebagai ketua Wilda, Cahyadi bertanggung jawab pada ekspansi PKS di Sulawesi dan Papua.

Karena keluhan-keluhan itu datang bertubi-tubi, Cahyadi berusaha meramunya dalam tulisan. Misalnya, keluhan tentang kebohongan-kebohongan suami yang menikah lagi. Juga masalah finansial yang membuat pernikahan menjadi tidak harmonis.

"Yang menyedihkan, ada suami yang buru-buru poligami hanya karena dikompori komunitasnya yang semuanya sudah menikah lagi. Padahal, dia belum siap. Akhirnya, yang terbengkalai adalah keluarganya," bebernya. Padahal, seharusnya poligami justru membawa keberkahan.

Sebelum menulis buku Bahagiakan Diri dengan Satu Istri, Cahyadi telah menulis 20 judul buku yang lain. Mayoritas tentang tema pernikahan. "Saya tidak bermaksud melukai hati para lelaki yang berpoligami. Karena itu, saya malah minta Bu Sri Rahayu Tifatul Sembiring sebagai istri pertama menulis kata sambutan," katanya.

Dalam bedah buku yang dilakukan hampir tiap minggu, Cahyadi juga menolak dipanelkan dengan aktivis antipoligami. "Saya yakin masalah ini akan hipersensitif karena kebanyakan yang membaca dipenuhi dengan emosi pribadi. Jadi, tidak jernih lagi," ujarnya.

Seorang pembaca bahkan komplain langsung ke penerbit. Pembaca itu merasa rahasia rumah tangganya ditulis Cahyadi. "Buku ini harus segera ditarik dari peredaran," kata Cahyadi menirukan ikhwan yang emosi itu. Padahal, dirinya belum pernah kenal. "Jadi, dia sendiri yang merasa bahwa apa yang saya tulis dalam buku itu cocok," jelas pria yang juga berprofesi sebagai apoteker itu.

Getah pahit, kata Cahyadi, juga nyasar ke teman-temannya yang ikut mempromosikan buku. "Misalnya, Mbak Neno Warisman. Gara-gara Mbak Neno aktif mengirimkan SMS soal buku ini, beliau dikomplain, terutama oleh kader-kader wanita yang sudah mempunyai madu," ungkapnya. Neno Warisman adalah salah seorang aktris sekaligus penyanyi yang sekarang aktif di PKS.

Apakah akan membuat buku baru lagi sebagai jawaban atas komplain? Cahyadi mengaku akan melakukan beberapa revisi. "Saya menghargai nasihat para asatidz (ulama) yang meminta redaksionalnya diperbaiki," katanya.

Meski begitu, lelaki kelahiran Karanganyar, Jawa Tengah, 11 Desember 1965, itu tetap menganggap bukunya tidak kontroversial. "Kalau saya menulis Sengsarakan Istri dengan Satu Istri, itu baru masalah. Kalau bahagia, kan semua ingin begitu," tegasnya.

Namun, keyakinan Cahyadi tetap berbenturan dengan realita di lapangan. Di Jawa Timur, misalnya, Ketua Dewan Syariah DPW PKS Jatim Ustad Mudhofar mengaku mendapat keluhan terkait buku itu. "Ada seorang akhwat yang skripsinya mendukung poligami, bertahun-tahun kader wanita ini bicara dalam diskusi-diskusi agar poligami didukung, tapi begitu membaca Pak Cah, langsung berbalik 180 derajat," paparnya kepada Jawa Pos.

Kuatnya buku itu, kata Mudhofar, karena track record penulisnya. "Pak Cahyadi selama ini dikenal sebagai ulama yang ahli dalam keluarga. Wajar kalau ada yang jadi ragu karena tulisannya," tuturnya.

Mudhofar menganggap dalil-dalil yang dipakai Cahyadi agak dipaksakan. "Misalnya, soal perbandingan umur Rasulullah saat sebelum poligami dan setelah poligami. Tidak ada ulama yang menggunakan patokan itu," jelasnya. Cahyadi menulis, Muhammad SAW menikah lagi setelah bermonogami selama 25 tahun bersama Khadijah.

Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim Rofi’ Munawar menambahkan, dirinya membatalkan meneruskan membaca buku itu sampai tuntas. "Saya juga dapat hadiah dari beliau (penulis buku) saat rapat majelis syura. Tapi, begitu saya baca, tidak saya lanjutkan karena kok ada yang nggak sreg," akunya.

Berbeda dengan kader-kader lelaki PKS, beberapa orang kader wanita yang dihubungi Jawa Pos justru sangat bersyukur atas terbitnya tulisan Cahyadi itu. "Suami saya menjadi ragu-ragu. Sebenarnya saya sudah akan mengizinkan, tapi setelah membaca, saya diskusi lagi, dan alhamdulillah batal (menikah lagi)," kata seorang kader yang meminta identitasnya disamarkan.

Alumnus Universitas Airlangga Surabaya itu melanjutkan, di kalangan internal kader wanita, buku itu seakan menjadi buku wajib. "Dalam setiap pertemuan mingguan, ada diskusi untuk membahas buku itu bab demi bab," katanya. Kader PKS biasanya mengadakan taklim rutin sehari dalam setiap pekan. Tempatnya bergantian di rumah masing-masing kader atau tempat lain yang disepakati.

Seorang akhwat lain menambahkan, dirinya menjadi lebih siap untuk menikah setelah membaca buku Cahyadi. "Tidak ada lagi rasa khawatir calon suami saya akan poligami. Nanti kalau dia memaksa, akan saya pertemukan langsung dengan Pak Cah," ujarnya. (*)

 

* foto dan tulisan bersumber dari web pks jogja dan indopos


20 CommentsChronological   Reverse   Threaded
laxita wrote on Aug 3, '07
aku mo beli ahh................................
di MP nya Mas IKhsan juga dibahas rame pak soal ini
hehehehe
masarcon wrote on Aug 3, '07
idiih, jadi semangat gitu ... Btw, buku ini bukan anti poligami, tapi membicarakan tentang bagaimana berkeluarga yang baik. Ujungnya memang mendukung monogami sih. Secara ideologi tidak menyerang pemahaman Islam. hanya saja, mungkin .. ada yang sedikit tertohok.
peaceman wrote on Aug 3, '07, edited on Aug 3, '07
bukan mendukung monogami bos, tapi mendudukkan persoalannya sec proporsional dan itu yang ditegaskan langsung oleh ust Cah di atas ....
kalo kata ustad Ihsan Tandjung yang tadi saya telepon, buat kasus ini, ternyata tidak sedikit kalangan tarbiyah yang 'tipis kuping' alias terkena gejala simplifikasi masalah dan segera ambil sikap ekstrem ...!
sip, laxita, saya juga minat beli ni karena mau kasih masukan ke ust Cah.
nanti share ya ...
btw, MP Ikhsan apa ya?
banyumili wrote on Aug 3, '07
Waahh bukunya bakal tambah laris tuuh...
ti2n wrote on Aug 3, '07
pengen beli bukunya :D
imanov wrote on Aug 3, '07

pro dan kontra poligami ini akan trus dan lanjut selama ada muslims.

di mormon sech tak ada kekecualian semua nrimo azza, yang sulit bagi mereka adalah pemerintah amerika serikat.

hidup mormon!

sudjanamihardja wrote on Aug 3, '07

salah satu yang bisa mencetuskan sen...si....tif adalah poligami ini.

tapi sesungguhnya juga sen... sa.. tion...

ya soale PERASAAN khan?

"diamlah" yang waras!
laxita wrote on Aug 3, '07
“Padahal jika dicermati, buku itu hanya memposisikan pemahaman atas disyariatkannya poligami dan memberi rambu-rambu pertimbangan bagi yang hendak menempuhnya. Saya juga heran mengapa koq bisa begini jadinya….” tambahnya kemudian"


jawaban yang sudah jelas sekali dari pak cahyadi, beliau bukan bermaksud mendengung-dengungkan paham anti poligami tapi agar orang bisa mendudukkan perkara poligami ini dengan bijaksana....kenapa malah rekan rekan seperjuangan beliau di PKS malah merah kupingnya yah?
sudjanamihardja wrote on Aug 3, '07

satu bukti lagi disini bahwa kita manusia ini,
sering diperintah oleh perasaan! lihat diatas sensation/sensasi,
sehingga
yang di"fahami"
yang di"cari"
dan yang di"ambil" yang cocok atau di"cocok"-kan dengan persaannya-lach.

iyyya toch?



roycelover wrote on Aug 3, '07
manusia manusia... :-)
orinkeren wrote on Aug 3, '07
heheheh heran.. tipis kuping dipiara... yahhhhhhhh
kucingkembar wrote on Aug 3, '07, edited on Aug 4, '07
Saya baru beberapa waktu ini tahu kalau banyak petinggi PKS yang berpoligami.
masarcon wrote on Aug 3, '07
bukan mendukung monogami bos, tapi mendudukkan persoalannya sec proporsional dan itu yang ditegaskan langsung oleh ust Cah di atas ....
kalo kata ustad Ihsan Tandjung yang tadi saya telepon, buat kasus ini, ternyata tidak sedikit kalangan tarbiyah yang 'tipis kuping' alias terkena gejala simplifikasi masalah dan segera ambil sikap ekstrem ...!
ya yah ... setuju deh. yg penting kan maksudnya sama dan tersampaikan .. :D setuju ama ustad Cah ...!
mdja2007 wrote on Aug 6, '07
Saya kira yang paling adil adalah 1 orang istri untuk setiap laki-laki. adil untuk sang istri dan memang itu yang diharapkan ajaran islam. Perihal tentang dibolehkannya polygami itu karena siatuasi yang daurat saja dan mengingat siatuasi jaman rasul karena banyaknya perang. Kenyataannya banyak laki-laki memilih istri kedua dst bukan dari sekedar unsur keadilan atau membantu janda atau alasan 'emergency' yang lain tetapi semata-mata karena NAFSU. Laki-laki yang bernafsu sementara istri (dan mungkin anak)nya jadi korban. Adil? Sama sekali nggak...
masarcon wrote on Aug 6, '07
enak juga sih punya istri kedua yang cantik, manis, semlohei, pintar menghibur suami.

tapi kalau gak punya uang kayak gini, caranya mungkin hanya sedikit :
1. jadi pemimpin umat yg can't do no wrong. jadi bebas kawin dgn siapa saja. tinggal poles dikit dgn peraturan yg ada, sehingga nampak "acceptable" dan "legal".
2. istri pertama diajak ngaji dulu, sehingga setuju dengan poligami.

additional note : usahakan cari madu yg kaya juga, jadi ndak financially burden :D

kira kira dari dua opsi diatas, mana yah, yang paling reachable ?
amaher wrote on Sep 8, '07
wah lagi pada ramai ya...
hehe mas ari postingannya keren juga...
masih penasaran..belum tahu persis isi bukunya
kalau ada...tak bedah..!
dokter181289arin wrote on Sep 22, '07
Saya baru beberapa waktu ini tahu kalau banyak petinggi PKS yang berpoligami.
saya juga baru tahu kalo petinggi2 pks banyak yang poligami. saya kira pak tifatur dan pak anis mata monogami. ternyata beliau berdua poligami tho...
azai82 wrote on Oct 15, '07
Saya Bagi saya, buku Ust. cahyadi sangat mencerahkan akhwat tarbiyah, karena pada dasarnya hukum asal pernikahan adalah adalah monogami (Fankihu ma tobalakum minan nisa mutsna, tsulasa wa ruba'...wa la' ta'dilu Fawahidah(an-nisa:3)) yang mengartikan bahwa bila tidak sanggup berbuat adil maka nikahilah satu saja sedangkan ayat al-qur'an menyititir am-nisa;129 bahwa kita di katakan tidak bisa berbuat adil walaupun kita berusaha, berdasarkan ayat an-nisa:3 dan an-nisa;129 maka Fazlurrahman berpendapat dengan menganalisis ayat ini bahwa u menghilangkan kontradiktif ayat maka harus di pahami bahwa hukum pernikahan adalah monogami berdasarkan keterangan ayat an-nisa 129 yang menyatakan bahwa kita tidak bisa berlaku adil padahal frase sebelumnya mewajibkan ketika kita tidak bisa berbuat adil maka nikahilah satu sa, sedangkan pendapat muhammad abduh bahwa u melihat poligami harus melihat asbababun nujul ayat tersebut bahwa ayaut tersebut turun setelah perang uhud di mana banyak para janda dan yatim terlantar sehingga menurut muhammad abduh, ayat ini ini turun pada kondisi tersebut agar para ikhwan mau menanggung kehidupan para janda dan yatim tersebut untuk menikahinya jadi hukum poligami oleh muhammad abduh hanya oleh di lakukan dalam konteks tertentuatau dalam keadaan darurat dengan membaca setting sosial ketika ayat ini turun sedangkan menurut sayyid qutb dalam kitabnya tafsir fi zhilalil al-qur'an bahwa poligami adalah Ruhksah atau keringanan yang di berikan kepada umat ini...jadi ininya menurut pendapat ini bahwa poligami boleh dilakukan hanya dalam keadaan asbab tertentu atau dalam kondisi darurat sebagai rukhsah kepada umat ini.
sehingga kita patut pertanyakan, apakah benar para ikhwan yang poligami murni karena dakwah?? tanyalah kepada hati nurani masing-masing!!!
benar kata Ust. Hidayat nur wahid : "satu ajha ga abis2" ketika menanggapi polgaminya AA Gym
Jazakallah, semoga dakwah ini lurus bukan karena hawa nafsu dunia semata tapi karena ghirah perjuangan dan kemuliaan islam semata amin dan mendapatkan Mardhatillah (zailani82@yahoo.com)
zurlen wrote on May 30, '08
buat pak cahyadi saya sangat salut beliau menyampaikan sesuatu hal yang sensitif dengan bahasa yang halus dengan pendekatan tanpa pretensi sehingga adalah pencerahan, semua tergantung dari sudut mana kita memandang, tidak perlu gusar bagi yang sudah poligami atau akan pak cah tidak menghakimi beliau hanya memberikan pencerahan dengan bahasa yang cukup lugas
kalibening wrote on Oct 21, '08
ngapain di repotkan dengan hal seperti itu,
yang mau poligami silahkan,
yang belum mampu ya, kagak usah dulu, ntar aja kalau udah mampu baru poligami.

yang nggak pingin poligami ya, kagak apa-apalah, gitu aja repot.
Add a Comment