 | Category: | Movies | | Genre: | Classics |
Phiuuuh, akhirnya kelar juga corat coret King Arthur buat WKPF. Bukan resensi banget. Gak ngerti teorinya sih ... :D jadi ngalir aja, nulis ketika dirasa pas, asik asik aja. Jadi, silakan dinikmati ya .... Ditunggu kritikannya ...
salam, Ari Condro
====
King Arthur The Untold True Story That Inspired The Legend
Sutradara : Antoine Fuqua Historical consultant : John Matthews Skenario : David Franzoni Durasi : 126 menit Pemain : Clive Owen (Arthur) : Ioan Gruffudd (Lancelot) : Keira Knightley (Guinevere) : Mads Mikkelsen (Tristan) : Joel Edgerton (Gawain) : Hugh Dancy (Galahad) : Ray Winstone (Bors) : Stellan Skarsgard (Cerdic) : Til Schweiger (Cynric)
Film ini muncul di saat yang tepat bagi saya, karena pada saat yang sama sedang ramai diskusi tentang agama dan segregasi sosial di milis lain yang saya ikuti. Jenuh dengan term "truth claim" dalam debatan, muak dengan definisi dzimmi dan kafir, film ini membuat awan kelam di atas kepala menjadi cerah.
Apa pasal ? Film ini baru saya rasakan gizinya setelah menonton dua kali. Pertama sebelum membaca Da Vinci Code (Dan Brown) dan Di tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Tersedu (Paulo Cuelho). Sebelumnya tidak banyak yang bisa aku komentari tentang film ini, datar, kelam, Arthur yang melankolik, perang yang kurang kolosal. Dan banyak percakapan simbolik, pada saat yang sama, sama tidak mengenal sejarahnya, tokoh tokoh dan peristiwa yang terjadi. Benar benar tanpa pegangan untuk memahami cerita, akibatnya sulit meninggalkan kesan yang mendalam.
Namun setelah dua buku itu membebaskan saya, dan memunculkan lagi hasrat menonton ulang legenda Arthur, barulah saya bisa mengacungkan 4 jempol sekaligus, kalau perlu lima ! :D
Ada baiknya kalau simbolisasi peristiwa dan kejadian bersejarah dalam film tersebut diungkap serba sedikit supaya kita tidak kehilangan referensi untuk "membacanya."
Arthur ~ Lucius Artorius Castus
Film ini terinspirasi penemuan arkeologi terbaru, tampil beda dengan kartunnya, Fuqua membesut Arthur sebagai prajurit Romawi. Sosok Arthur di film ini mendasarkan figurnya pada Lucius Artorius Castus, sosok yang benar benar ada secara historis di abad kedua masehi.
Sementara legenda film berpusar pada abad 5 masehi (wah agak jauh ya jaraknya?), Artorius memimpin pasukan kavaleri Romawi dari bangsa Sarmatian yang ditempatkan di Briton. Dan akan memperoleh kebebasannya setelah mengabdi pada Romawi selama 15 tahun. Saat itu anak buah Arthur (para Ksatria Meja Bundar) yang tersisa adalah Lancelot, Bors, Tristan, Gawain, Galahad dan Dagonet. Mereka berperang melawan orang Kelt (sering disebut Woads/para pemberontak) dengan pemimpinnnya Merlin di wilayah sekitar tembok Hadrian (Hadrianus wall).
Tarikan awal film ini memang disini. Sebelumnya kisah Arthur Pendragon dan Ksatria Meja Bundar tidak pernah dihubungkan dengan imperium Romawi. Meskipun secara rentang waktu kesejarahan banyak persentuhan dengan konflik sekitar Romawi. Sosok Merlin juga tampil beda dalam film ini, digambarkan sebagai tetua suku dari Woad, bukan sebagai penyihir Celtic dengan sihiran sihiran ampuhnya. Film ini justru jauh dari sihir dan magis. Kontroversial dan penuh dengan tafsiran hermeneutis dari sisi sejarah.
Tugas Terakhir
Kisah dimulai bertepatan dengan habisnya masa pengabdian 15 tahun yang ditunggu tunggu untuk kemerdekaan mereka dari wajib militer, para ksatria Arthur sudah menunggu nunggu kesempatan untuk hidup damai membangun keluarga. Saat kritis timbul ketika mereka seharusnya mendapatkan kemerdekaan sebagai bangsa taklukan Romawi (saat itu Inggris dikuasai Kekaisaran Romawi dan banyak suku (tribe) yang ditaklukkan dan dijadikan bagian dari pasukan Romawi). Arthur dikisahkan berdarah setengah Romawi setengah Briton, dari ibu yang juga Kelt, pemeluk agama Droid/Kelt. Arthur sendiri dibesarkan di Romawi dan turun temurun keluarganya mengabdi pada Kekaisaran Romawi.
Menjelang kebebasannya mereka mendapat tugas terakhir (dan juga berbahaya) dari Bishop Germanus of Auxerre untuk menyelamatkan satu keluarga bangsawan Romawi dari serangan suku Saxon, suku kulit putih rasis (dalam film ditonjolkan sisi supremasi kulit putih yang ditonjolkan dengan jelas) yang dipimpin oleh Cerdic dan anaknya Cynric. Arthur dan para ksatrianya kejatuhan sampur harus melakukan tugas itu karena pasukan Romawi saat itu telah keluar dari Inggris sehingga keluarga tersebut saat ini berada di luar jangkauan pasukan Romawi. (Cerdic, Cynryc dan aneksasi oleh Saxon ini benar benar terjadi dalam sejarah).
Dalam misi penyelamatan tersebut, Arthur dan Lancelot bertemu pertama kalinya dengan Guinevere (dalam penjara bawah tanah milik si bangsawan Romawi) menyelamatkannya bersama para tahanan lainnya dari penjara. Perih nian hati Artorios mengetahui bahwa penjara ini dibuat untuk menghukum para kafir penganut pagan. Dengan berbagai jenis hukuman mengerikan yang dilakukan para biarawan.
Kesetaraan Umat Manusia
Meskipun Arthur adalah penganut Kristen taat dari sekte Pelagius namun seluruh Ksatria Meja Bundar adalah orang orang Celtic penganut kepercayaan Droids. Sebelum menerima penugasan dari Bishop Germanus pun sempat terjadi kegalauan dalam hati Arthur. Gurunya, Pelagius, ternyata dihukum mati oleh otoritas Roma karena dianggap mengajarkan aliran sesat (heretic). Dari wikipedia, kesesatan Pelagius berkaitan penolakannya terhadap masalah dosa asal. Dalam film berikatan dengan pendapatnya tentang kesetaraan semua manusia. Namun saya menemukan tulisan Ingrid Ranum berkaitan gereja Keltik Irlandia yang memiliki kekhasan dalam masalah dosa waris dan kebebasan individu. Bisa jadi ini warisan Pelagius dan pengaruh budaya Kelt terhadap kekristenan.
Diskriminasi yang dilakukan Romawi pada bangsa bangsa taklukannya, dan penistaan yang dilakukan para Biarawan terhadap pemeluk pagan bertentangan secara diametral dengan hal hal yang diyakini Artorius, baik ajaran gurunya tentang kesetaraan umat manusia maupun kisah dirinya yang menjadi komandan pasukan kaveleri bangsa taklukan yang mengabdi pada Roma. Perlu dicatat bahwa dalam beberapa kesempatan Guinevere dan Merlin mengingatkan Arthur akan jati dirinya sebagai orang Briton yang telah mencederai bangsanya sendiri selama 15 tahun terakhir. (Kisah orang Romawi mengambil anak anak dari suku jajahannya sudah tercatat dalam sejarah, bahkan Atillah the Hun dalam sejarahnya menghabiskan masa kecilnya di Roma untuk mempelajari kebudayaan Romawi, yang berakhir dengan pemberontakan besar suku Huna).
Dalam film, Guinevere adalah putri kaum Woad dan anak kandung Merlin. Juga diketahui kalau ibunda Arthur berasal dari suku Woad juga. Dalam versi yang berbeda asal usul Guinevere adalah putri King Maleagant, penjaga Meja Bundar.
Dalam film ini selingkuhnya Lancelot dengan Guinevere juga tidak diceritakan. Kisah pertama yang memuat hal ini adalah Le Chevalier de la Charette karya Cretien de Trojes, namun bibit romantisasi antara Lancelot dan Guinevere ini sudah diperlihatkan dalam saat saat ketika Arthur dengan Lancelot berebut untuk menolong dan mendapatkan perhatian si cantik nan misterius. Antara Artorios yang keras dan pemurung dengan Lancelot yang cerdik, agak ugal ugalan dan romantis memang sulit untuk memilih.
Kembali ke kisah ideal kesetaraan antara umat manusia, hal ini pula yang mengilhami meja bundar. Dengan meja bundar ini semua ksatria termasuk Arthur berdiri setara dan sejajar satu sama lain. Rasa persaudaraan dan senasib sepenanggunganlah yang menyatukan mereka semua.
Alkisah, pertolongan Arthur dan Ksatria Meja Bundar terhadap para pemeluk pagan menyuburkan persekutuan antara Arthur dan kaum Woads yang dipimpin Merlin. Dari persatuan inilah yang membawa Arthur dan para Ksatria menuju kisah bersejarah berikutnya.
Supremasi Kulit Putih
Simbolisasi berikutnya berkaitan dengan pihak musuh. Bangsa Saxon, dalam film sudah mengenal "white supremacy", ditunjukkan dengan adegan ketika Cynric melarang salah satu anak buahnya memperkosa perempuan lokal dalam salah satu wilayah yang mereka taklukkan. "Kau tidak boleh melakukannya karena akan menyebabkan darah kita tidak murni lagi", geramnya. Lagi lagi ide kesetaraan umat manusia. (Mungkin hawa dari ide kesetaraan ini demikian kental karena ketika saya lihat foto Antoin Fuqua dalam situs IMDB ternyata doi berkulit hitam, pantas !!!). Ide kesetaraan ini mencerahkan, namun adegan ini menjadi kontroversi karena paham rasis belum dikenal pada saat itu. Selain itu arah pergerakan pasukan saxon yang ahistoris. Dalam film disebutkan mereka bergerak dari Utara tembok Hadrian, sementara fakta historis menyatakan sebaliknya.
Dalam adegan pengejaran, diantara serbuan bangsa Saxon yang tak terkalahkan, sampailah mereka di Badon Hill. Lagi lagi ada pertentangan batin dalam diri Artorios. Tugasnya sebenarnya sudah selesai, keluarga bangsawan Romawi sudah selamat, dia dan anak buahnya bisa pulang. Namun ia juga tidak mau tanahnya dan bangsanya terjajah oleh orang orang Saxon. Pada awalnya ia memutuskan menghadapi bangsa Saxon sendirian, sampai akhirnya para ksatrianya kembali untuk berjuang bersama dengan pasukan Woads bertempur habis habisan menghadapi bangsa Saxon.
Sosok Arthur di film ini secara historis lebih dekat pada Ambrosius Aurelianus, seorang berdarah campuran Romawi dan Briton. Dalam sejarah, tokoh inilah yang menghentikan serbuan bangsa Saxon di Badon Hill. Seperti kisah Cinderella film ini berakhir dengan Arthur dan Guinevere hidup bahagia untuk selamanya.
Dalam film, pemimpin Saxon Cerdic dan putranya Cynric mati dalam perang, fakta historisnya mereka memang kalah dan tidak melanjutkan ekspansinya. Namun mereka menetap dan hidup di Inggris, dan belakangan bangsa Saxon berakulturasi dengan orang Celtic.
Supremasi kulit putih dalam film ini nampaknya menyindir White Anglo Saxon Protestant di Amerika ..... :)) - Napas pesan, kacang lupa kulit, keras disuarakan dalam skenario film ini. Sayangnya kendati film ini sarat pesan, namun karena bobot kesejarahannya yang berat, film ini kurang diapresiasi oleh masyarakat pencinta perfilman di Eropa dan Amerika, sehingga film ini tergolong jeblok. Yah, setidaknya ada saya yang mencintai film ini, hehehehe.... :D
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Victor Hugo |
Aku sudah 2 tahunan yang lalu menonton filmnya, dibintangi Gerard Depardieu, disutradarai Josée Dayan, film yang sangat menarik dan berkarakter, meskipun di dalam hari aku merasa banyak bagian yang tereduksi dan tidak berhasil aku lacak, banyak pertanyaan yang tertinggal dalam benakku sehabis menonton film tersebut.
Kemarin, Bentang mengirimkan buku terakhir dari janji 3 bulan buku gratis, dan diantara 2 buku dalam sampul plastik, yang kutunggu dan kunanti, Les Miserables ada didalamnya.
Bagian bagian awal buku ini menceritakan kembali bagaimana awal kehidupan Jean Valjean (diperankan dengan sangat mempersona oleh Gerard Depardieu).
Di film, bagian ini agak kurang ditampilkan karena fokusnya banyak ke kehidupan Jean Valjean yang berubah dari seorang yang hidup dalam kemiskinan sejak kecil menjadi seorang walikota dan industrialis kaya.
Masa 40 tahun pertama kehidupan Valjean dihabiskan di penjara selama 3 tahun karena mencuri roti bagi 8 nyawa dalam tanggungannya (yang akhirnya menjadi total 19 tahun kurungan karena percobaan melarikan diri dari penjara yang gagal berulang kali).
Ah, kesuraman hidup pada masa jaman victoria abad 19 (diceritakan valjean hidup sekitar akhir 1800 sampai awal 1900an). Dan mengingatkan aku pada bagian bagian awal Memoir of Geisha (Arthur Golden).
Masa jaya Valjean berakhir ketika dia menjadi buronan inspektur Javier. Pada saat yang hampir bersamaan Valjean menolong seorang anak yang dilahirkan diluar pernikahan dari seorang buruh pabriknya.
Nasib membawa mereka mengembara dan terlunta lunta dibawah pengejaran Javert.
Ada banyak detail yang kalau dijabarkan bisa spoiler berat, namun rangkuman antara kisah romantis, penderitaan kaum papa, derita dan nasib, serta diramu dengan perjuangan kelas dan arah jaman yang sedang bergerak dalam ketidakpastian menjadi kekuatan utama dari kisah Victor Hugo ini.
Terjemahan Anton Kurnia yang menggunakan pilihan bahasa suram, romantis dan unik ala jokolelono mampu merefleksikan kekuatan kata kata dalam kisah besutan Victor Hugo ini.
Thx to Victor Hugo dan Anton Kurnia yang membawa dunia kata kata dan perenungan ini ke hadapan kita semua.
| |